Perjuangan Wanita “Hidup atau Meninggal”

26 April 2017 1 tahun yang lalu lahir seorang jagoan kecil yang saat ini sering dipanggil Azfar. Seorang bayi mungil yang di titipkan Allah kepada kami, untuk dididik menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna untuk Orang Tua, Agama, Nusa dan Bangsa.

Perjuangan yang begitu luar biasa yang dialami seorang wanita, berjuang agar jagoan kecil bisa menghirup udara bebas dengan selamat. Saat saya belum berada dan merasakan berdiri tegar disamping perjuangan wanita tangguh, pertaruhan nyawa saya anggap hanya omongan belaka yang hanya untuk menakut-nakuti anak-anak dimasa saya kecil, semua itu terjawab dan semua itu nyata untuk sebuah pertaruhan nyawa.

Jagoan kecil Azfar masih dalam kandungan 9 bulan, sekitar 1 minggu sebelum dilahirkan nikmat yang begitu luarbiasa Allah berikan, hari yang dalam penantian untuk menunggu tangisan awal bayi itu lahir, Allah berikan terlebih dahulu penyaki kepada istri saya yang dimana harus dirawat untuk memulihkan tubuhnya agar dapat lahir normal, pada saat itu Dokter ponis istri saya dengan sebutan DB (Demam Berdarah)

Hingga menjelang 2 hari kelahiran jagoan kecil, hasil pengecekan trombosit semakin turun dan dokter kandungan harus ponis jika trombosit belum naik juga, lahiran harus dengan cara cesar, dengan mendengar itu kami hanya bisa pasrah, apapun caranya harapan hanya ingin keselamatan untuk ke-2 nyawa.

1 hari sebelum kelahiran Allah berikan suatu kebesarannya trombosit mulai naik dan normal, bersamaan dengan itu kontraksi mulai hadir, untuk berjuang melahirkan seorang jagoan kecil dan berjuang untuk ibunya tetap sehat.

26 April 2017 tanggal tersebut Allah berikan rasa kontraksi yang begitu luar biasa, disaat itu mulai dari pagi hingga malam hari hampir tidak ada jeda rasa yang begitu sakit, bahkan saya sendiripun lupa bagaimana merasakan perihnya perut ini karena belum makan. Hingga saat ini kata yang selalu teringat ketika kontraksi itu terjadi adalah “Ayah maafin ummi”  dengan kata itu menandakan rasa sakit yang tidak terhingga dan menandakan pertaruhan nyawa seorang Ibu untuk menyelamatkan Bayi tetap terjaga, semuah ungkapan kata terakhir jika Allah tidak berikan keselamatan.

Tanpa keyakinan dan Doa dari Orang tua. Teman dan Kyai rasanya mustahil semua itu terjadi untuk dapat lahir dalam keadaan normal dan Allah tidak pernah salah untuk menjadikan Syurga berada ditelapak kaki Ibu.

Cerita ini enggan saya tulis, namun tulisan ini harus saya tulis untuk saya jadikan salah satu Apresiasi untuk para wanita khususnya Istri saya dan semoga bermanfaat untuk anak-anak yang saat ini belum menghormati Orangtua. Tetap selalu hormati Orang Tua (Ibu, Ibu, Ibu, Ayah).