Bersama Untuk Maju

Kegiatan 17 Agustus 2018 ini menjadikan bukti awal majunya kembali sebuah kegiatan di lingkungan kami, setelah kurang lebih 1,5 bulan kegiatan ini kami susun, di malam 17 menjadikan awal terlaksananya kegiatan kami.

Mulai dari kegiatan Tasyakuran, konsumsi yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu yaitu nasi uduk ala ngeriung, dari pada ibu-ibu pada nyuci piring, alasnya diganti dengan daun pisang dan kertas nasi, yang setelah makan bisa langsung di buang atau yang mau bungkus bisa langsung di bawa, kegiatan tasyakuran mulai dari pembukaan, pembawa acara dadakan saya sendiri dilanjut pembacaan tahlil dan di tutup dengan sambutan Ust plus Do’a, acara berjalan cukup lancar namun miskomunikasi antara panitia dan warga.

Kegiatan tasyakuran pesertanya hampir-hampir hanya panitia saja, karena menurut warga tidak ada pemberitahuan, dan di sisi panitia tidak memperhitungkan kalau informasi yang telah disampaikan melalui selembaran yang di tempel di tembok-tembok dan selembaran untuk donatur warga tidak di baca oleh warga atau hanya informasi yang dianggap warga tidak bermanfaat, mungkin ini bisa di jadikan perbaikan untuk kegiatan selanjutnya, ya namanya juga baru mau maju lagi, kalau harus bisa langsung sempurna kapan bisa dimulainya “Release early, release often“ Jalanin dulu aja perbaikannya sambil berjalan.

Malam Tasyakuran RT 003/010 Stadion Mini Setia Mekar

Kegiatan tidak berakhir di acara tasyakuran saja, tapi kegiatan yang penuh kemeriahan juga ada di berbagai macam perlombaan. Perlombaan di buka dengan sepeda hias, yang pesertanya dominan dengan anak-anak Paud, TK dan SD, anak-anak mengayuh sepeda berlahan tapi pasti dengan didampingin orang tuanya dan panitia sambil menyanyikan lagu kemerdekaan.

Dilanjutkan dengan perlombaan yang lainnya ada Lomba masukan bendera ke dalam botol, Masukan Air kedalam botol, Masukan benang kedalam jarum, Kelereng, Bakiak, Makan kerupuk, Mengambil Duit di semangka, Jeget balon, Tarik tambang, Pukul kendi

Perlombaan yang menjadi pusat perhatian juga adalah perlombaan Balap karung menggunakan helm yang biasanya hanya karung saja dan panjat pinang anak-anak yang biasanya dewasa. Perlombaan balap karung menggunakan helm di ikuti oleh kaum Ibu-Ibu, keseruan ada pada saat loncat-loncat  menggunakan helm disaat memakai karung, ada yang jatuh karena terserimpet karung ada yang helm nya terjatuh dan berusaha mengambilnya kembali.

Walaupun bahannya menggunakan kedebong pisang tapi tetap di sebutnya lomba panjat pinang, tahun ini pesertanya pertama kali di ikuti oleh anak-anak, mereka berusaha sekuat tenaga untuk meraih puncak, setiap 5 menit ganti group, masing-masing group ada 5 anak-anak, hingga waktu menunjukan pukul 17 belum juga berhasil, akhirnya semua team digabung berharap semakin kuat dan berhasil, karena masih anak-anak mereka berlomba-lomba ingin ada di atas tanpa ada rencana, yang penting di injek di tindih dan hasilnya tidak berhasil juga, pada akhirnya untuk dapat di puncak kedebong akhirnnya diturunkan beberapa panitia untuk dapat sampai di puncaknya, walaupun yang sampai puncak panitia tapi usaha mereka patut di berikan apresiasi, karena berani untuk tampil, berani untuk sakit, berani untuk berkorban untuk berusaha sampai puncak, sampai sekarang saya sendiri tidak mau mengikuti perlombaan tersebut.

Segala kegiatan perlu bersama untuk mencapai suatu tujuan untuk mencapai kemajuan yang akan membawa dampak yang semakain baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *