Idul Fitri

1 bulan penuh umat islam berjuang menahan hawa nafsu, menahan tidak makan dan minum untuk mendapatkan puasa yang sempurna agar menjadi orang-orang yang bertaqwa, kini ramadhan telah pergi untuk 11 bulan lamanya, bulan yang penuh berlipat-lipat pahala jika melakukan kebaikan, bulan penuh dengan bonus pahala, entah bulan itu akan kembali lagi atau bisa saja kembali namun kita tidak merasakannya kembali.

Dilingkungan saya dikala ramadhan saja toa musolah tidak segan-segan berbunyi memberikan informasi tentang kematian, 2 hari setelah ramadhanpun hal yang serupa terjadi, kematian itu tidak bisa ditawar, jika sudah waktunya ya harus diterima dan ibadah didunia akan mulai di perhitungkan.

Selepas azan ashar saat 1 hari terakhir bulan ramadhan suara takbirpun mulai berkumandang, sahut menyahut dari masjid-masjid atau musholah mulai terdengar yang artinya ramadhan akan pergi, semua orang yang menikmati ramadhan akan bersedih karena melepas kepergihan ramadhan dan akan gembira karena sudah berjuang melaksanakan ibadah dibulan ramadhan karena meraih kemenangan.

Lalu kenapa semua umat islam harus merasa senang? apakah mereka merasa menang? menang seperti apa yang mereka dapatkan.

Saya dan keluarga selepas sholat subuh bersiap-siap, setelah itu berjalan menyusuri jalan menuju masjid, sesampainya dimasjid terlihat begitu penuh dan rapat hampir tidak ada celah sama sekali dan saya yakin setiap masjid-masjid yang lain sama pasti sangat penuh oleh umat muslim, sebagian mereka menggunakan pakaian baru untuk merayakan idul fitri, semua itu indah dilihat semoga semua merasa menang karena telah melalui ibadah selama 1 bulan penuh disaat ramadhan.

Taklupa setelah sholat semua berjabatan tangan dengan mengucap kata maaf, hal tersebut menjadi hal yang biasa dihari pertama lebaran, semua merasa punya salah dan berharap maaf dari setiap jabat tangan.

Lebaran tahun ini berbeda, jika tahun-tahun sebelumnya saat lebaran kedua orang tua ada bersama untuk merayakan lebaran, ditahun ini ke dua orang tua pulang kampung, merayakan lebaran di kampung halaman Ibu (Wates Jogja) ditahun ini saya keliling kampung bersama isteri.

Tahun ketahun sama tradisi potong ketupat tetap ada, tak lupa juga tradisi bagi-bagi uang baru kepada anak-anak kecil, dihari lebaran ini anak-anak kecil terasa sangat sopan setiap bertemu orang pasti cium tangan, selain waktunya memang lebaran dibarengi juga niat untuk mendapatkan lembaran-lembaran rupiah. Disaat lebaran membuktikan banyak anak banyak rezeki, jika punya anak 5 maka kita harus ngasih ke 5 anak tersebut.

Selamat hari raya Idul Fitri 1440 H/2019 M mohon maaf lahir dan batin, semoga bisa bertemu kembali Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan dengan kwalitas ibdah yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *