Komunitas Gowes

Komunitas sepeda yang saat ini saya ikuti kurang lebih sudah 3 tahun, yang berisikan beberapa anak muda dan banyaknya orang-orang yang sudah tidak muda, kegiatan utamanya ngayuh sepeda setiap minggu pagi dan terkadang mengikuti event yang diadakan di daerah Bekasi, mengayuh sepeda setiap pagi mulai berkurang karena kondisi cuaca yang kurang baik dan terkadang seringnya berbarengan dengan kegiatan lain.

Namun disamping itu, tidak hanya olahraga yang di utamakan, kegiatan sosial lainnya sering kami adakan, seperti ketika ada keluarga yang sedang tertimpa musibah, keluarga yang melakukan resepsi dan beberapa bulan yang lalu kami melakukan penggalangan dana untuk korban musibah Tsunami Banten dan langsung kami antar ke para korban berupa Indomi, Pakaian layak pakai, kebutuhan Bayi, Beras dan beberapa kebutuhan yang lain.

Selain kegiatan sosial yang kami lakukan ada juga kegiatan yang tidak kalah asyiknya yaitu Ngaji bareng dengan para anggota goes, dengan jumlah anggota kurang lebih 73 orang tidak semuanya dapat mengikutinya, karena ngaji ini berkaitan dengan keimanan terkadang naik (Bertambah) terkadang Turun (Berkurang) seperti yang sering disampaikan Boss saya jika sedang briefing

“Al Imanu Yazidu Wa Yanqusu..”

Iman Itu Bisa bertambah Dan bisa berkurang

Dari sekian banyak anggota yang dapat mengikuti pengajian kurang lebih 10 s/d 15 orang, tidak banyak namun kami tetap bertahan, jika dulu sekolah mungkin pelajaran agama bisa 1 atau 2 kali dalam seminggu di dapatkan, namun setelah itu mungkin sebulan sekali atau setahun sekali bahkan mungkin tidak sama sekali.

Kami belajar mulai dari awal pelajaran Iqro, dan pengajian mingguan ini kami berinama Pengajian Iqro karena memang benar-benar dari mengenal huruf, keluarnya huruf (makharijul huruf)

Saya mengenal huruf alquran, tetapi ketika belajar disini baca huruf demi huruf, bisa dibilang nol besar, mungkin dulu salah saya ketika mengaji saya berfikir semua huruf yang keluar tidak ada bedanya dalam cara mengucapnya.

Saat ini pengajar benar-benar Ust lulusan pesantren, Ust yang dulu pernah menjadi Calon Kepala Desa namun gagal, mungkin ini keuntungannya beliau gagal, sehingga saya masih bisa terus mengenal huruf demi huruf al-qur’an, pengajian Iqro yang kami adakan setiap malam Sabtu dengan metode Rubaiyat (Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur’an Untuk Semua Umur) karangan Hamim Thohari, B.IRKH(Hons) kami pelajari dengan penuh terbata-bata terasa kaku dalam mengucapkannya

 

Huruf-hurufnya tidak ada bedanya dengan pelajaran yang dulu pernah saya pelajari, sama-sama huruf hijaiyah. Mungkin ada beberapa surat al-qur’an yang saya hafal namun belum tentu betul pengucapanya.

Dengan begitu ada waktu yang dilakukan dalam komunitas kami untuk urusan Agama, karena setidaknya inilah yang nantinya akan ditagih.

Terus perbaiki bacaan Al-Qur’an, ingat Allah menilai bukan dari hasilnya tetapi usahanya.

Tidak melupakan duniawi, tetapi jangan melupakan akhirat juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *