Pembukaan Pengajian IQRO dimasa New Normal

Dimasa wabah virus Corona kami harus beristirahat sejenak dalam rangka pengajian Iqro yang sedianya kami adakan 1 pekan sekali, mungkin dengan beristirahat dan mengikuti protokol kesehatan menjadi salah satu usaha kami untuk tetap sehat.

Namun untuk saat ini status sudah menjadi New Normal dimana masyarakat dapat beraktivitas kembali namun tetap aman dari Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan. Yang berarti aktivitas kami dalam pengajian Iqro pun bisa kembali berjalan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Pada tanggal 14 Juli 2020 kami melaksanakan Tahlilan di rumah anggota kami yang salah satu keluarganya meninggal, untuk mengirimkan doa-doa untuk almarhumah, setelah selesai tahlil menjadikan salah satu temapat kami silahturahmi untuk saling sapa kembali, yang sebelumnya Covid-19 bagaikan tembok yang seakan membatasi langkah kami untuk silahturahmi.

Diwaktu rersebut hadir beberapa anggota kami dan Guru ngaji Iqro kami, di sela-sela perbincangan tersebut tercetus untuk pembukaan pengajian kembali, mengingat saat ini status sudah New Normal, namun sebelum melaksanakan pembukaan pengajian kami jadwalkan untuk silahturahmi ke salah satu pesantren yang berada di Mega Mendung-Bogor, kami jadwalkan hari Jum’at tanggal 17 Juli 2020 keberangkatan Bada Isya, kami jadwalkan silahturahmi ke pesantren untuk membangun semangat kami kembali.

Perjalana kami menempuh +- 3 jam dengan istirahat 1 kali, kami menggunakan transportasi Motor Melewati Gunung Geulis dengan jalan yang sangat berkelok, menurun dan menanjak, seharusnya setelah sampai jalur Gadog Puncak kami kearah kanan atau turun kearah Mega Mendung, mengingat kondisi sudah mendekati tengah malam, kami harus naik menuju jalur puncak atau menuju masjid Atta’awun untuk istirahat sejenak menunggu Subuh tiba.

Sebelum datang azan subuh kami melanjutkan perjalanan kembali, keputusan ini diambil mengingat kondisi suhu sangat dingin, kami berharap mendapatkan azan subuh sudah di pesantren, namun baru sampai di pom bensin Gadok azan subuh sudah menyapa, kami istirahat sejenak dan melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu.

Kami melanjutkan perjalanan menuju pesantren +-20 menit untuk sampai di lokasi, setelah sampai di lokasi kami mendapati anak-anak kecil yang sedang mengaji bersama, mereka hebat jauh dari orang tua, jauh dari keluarga tetapi tetap bisa beraktivitas, orang tuanya benar-benar sayang dengan anaknya karena berusaha mendidik anak-anaknya dekat dengan agama, terlepas mereka besar nanti dan mereka menjadi apa, itu urusan rezeki mereka nanti, apakah mereka selesai menuntut ilmu dari pesantren harus menjadi Ustad atau Kiyai belum tentu juga, bisa saja jadi pengusaha atau bekerja di bidang IT atau mungkin jadi pejabat pemerintah atau mungkin jadi Presinden atau Wakil Presiden kan kita tidak tahu juga, yang pasti usaha awalnya adalah mereka bisa mengenal Agama Islam.

 

Pesantren ini mengandalkan penghasilan dari berkebun, yang saat ini telah panen buah pala, jika panen penghasilannya bisa dibuat untuk operasional selama +-1 tahun, muridnya tidak ada Iuran bulanan hanya ada pembayaran listrik saja.

Saya sempat di ajak ke kebun melihat lokasi yang bukan kebun setelah panen atau bukan kebun yang telah di tanami, tapi kebun yang masih kosong yang belum di manfaatkan, mengingat kebun tersebut memerlukan modal maka kebun itu belum dimanfaatkan, kebun itu nantinya akan ditanami dengan pohon sereh merah jika sudah ada modalnya.

Untuk pemanfaatan kebun ini memerlukan biaya +-5.000.000,-

Sisa pohon buah pala, yang lainnya sudah panen

Sebelum kami kembali ke pesantren setelah melihat-lihat kebun, kemi di ajak ke tempat makam Jerman, makam yang ditata rapih ada berjumlah 10 makam.

Setelah perjalanan ini semoga niat kami untuk tetap berusaha belajar mengaji akan semakin tinggi dan semoga dengan perjalanan ini pun terketuk kami dapat membantu membangun berjalannya perkebunan di wilayah pesantren yang pemanfaatannya untuk membangun pesantren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *