Berjuang Terbebas Dari Sakit

Dulu saya tidak tahu bagaimana proses perjuangan Orang Tua saya, berjuang untuk membesarkan saya, yang saya tahu tubuh ini berangsur besar dan dewasa.

Saat ini saya mempunyai putra umur 2 tahun lebih, meski istri saya yang berperan banyak dalam berjuang, namun saya bisa merasakan juga bagaimana proses perjuangan mereka (IBU) terutama saat mengandung, melahirkan dan membesarkan anak.

Perjuangan Ibu itu sangat hebat, mereka berjuang bagaiman cara anak-anaknya agar bisa tetap hidup, mungkin hal yang sama juga dilakukan oleh Ibu saya bahkan mungkin lebih dari yang saya rasakan.

Seorang yang gigih dan memiliki semangat yang tinggi kini sedang tak berdaya dan sedang terbaring sakit, kurang lebih 2 bulan lamanya terbaring merasakan sakit yang dideritanya, dengan semangat tetap ingin kembali sehat.

Sakit dibagian kepala yang sangat hebat awal mula nikmat sakit yang dirasakan, rasa itu sangat terasa sakit, untuk membuka mata pun tak mampu, tak berselang lama sakit yang lain berdatangan, kebas dimuka dan telinga agak berdenging, bals pasy, liver dan sakit paru.

Sakit adalah salah satu tanda Allah akan memanggilnya kembali kehadapannya, dengan hal itu saya ingin selalu memandang wajahnya, beberapa kali saat istirahat kerja saya sempatkan pulang meski hanya untuk melihat wajahnya dan memastikan perkembangan kesehatannya, Mungkin saja saat saya pulang kerja sore hari nanti, mata ini tak mampu lagi melihat wajah wanita hebat, mungkin saja bendera kuning berkibar dihalaman rumah diiringi banyak orang dengan isak tangis.

Saat ini saya masih dapat merasakan nikmatnya mengurus Ibu saat sedang sakit, sesekali kecupan bibir ini hinggap di wajah dan tangan yang mulai penuh dengan kerutan pada kulitnya, kecupan itu sebagai salah satu tanda diri ini menyayangi Ibu, dulu semasa kecil dekap peluk dan kecupan kasih sayang pun berlabuh di tubuh kecil yang saat ini sudah besar, saya ingin terus berada dalam dekapan tubuhnya, namun itu tidak mungkin. Sesekali ibu minta di usap di pijat pada bagian tubuh yang mulai terasa pegal karana terlalu lama berbaring, air mata ini kerap mengalir ketika melihat ruku dan sujudnya mulai dalam keadaan duduk.

Sakit yang dirasakan itu terasa semakin berat hingga tepat di tgl 2 desember 2019 saat terbangun dari tidurnya, berdiri dan menahan tubuhnya saja sudah tidak mampu, kami tetap meyakinkan Ibu nanti kalau makannya banyak pasti tenaganya pulih kembali. Kami bawa Ibu ketempat pengobatan alternatif, setelah dilihat dengan kondisi tubuh yang lemas kami disarankan untuk dibawa ke RS untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pesan-pesan yang terkadang terucap dalam lisannya membuat air mata ini seakan semakin deras berlinang namun tetap berusaha ditahan “Pesan ke istri saya, AA jangan keluar kota dulu” “kalau gw udah ga ada langsung aja ga usah tunggu yang dari jawa” “gw punya utang ……”

Disaat sakit banyak sahabat, tetangga, sodara berdatangan tetap berdoa akan kesembuhan Ibunda tercinta, setelah tamu pulang Ibunda terkadang sedih mungkin karena tiba-tiba sepi kembali, disuatu waktu saya pernah berkata (Emak banyak yang pada dateng , bawa Do’a-doa biar bisa sehat kembali, sehat, kuat ya mak, Ibunda menjawab Iya, tapi gw malu dateng pada ngasih duit) pada saat itu bukan lagi uang yang diharapkan tapi Do’a saja sudah cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *